Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Maret 2011

SI KECIL SUKA MENGINTIP

Seorang ibu merasa gundah karena perilaku anak laki-lakinya yang berusia 4 tahun. Kalau ibunya sedang duduk dan pakai rok, si kecil terkadang seperti ingin "mengintip" seolah ingin tahu apa yang ada di balik rok. Terkadang saat sedang di pangku, si kecil juga agak menarik baju bagian atas seperti mau "mengintip". Apakah perilaku ini wajar bagi anak seusianya?

Menurut psikolog Dra Mayke S Tedjasaputra, MSi, dari Lembaga Psikologi Terapan UI, perilaku anak yang ingin tahu apa yang ada di balik rok atau baju ibunya sangat wajar. Hal ini berkaitan dengan keingintahuan anak terhadap masalah seksual.

Misalkan saja, itu mungkin karena si anak belum pernah melihat alat kelamin perempuan dan tidak tahu beda antara perempuan dan laki-laki. Kemungkinan lain, si kecil meniru perilaku orang dewasa.

Ibu bisa memperkenalkan bahwa laki-laki mempunyai penis dan perempuan mempunyai vagina dan buah dada (atau boleh menggunakan istilah yang lazim digunakan di tempat ibu). Pengalaman praktis dapat diberikan ketika anak sedang bersama anak kecil lain, baik laki-laki atau perempuan dengan cara menunjukkan apa persamaan dan perbedaannya.

"Ibu juga boleh memberitahu bahwa pada anak perempuan setelah usia remaja akan tumbuh buah dada. Kalau keingintahuan anak sudah terpenuhi, dia tidak akan lagi mengintip-intip rok atau baju ibu," kata Mayke.

Saran lain, ketika anak berusaha membuka baju ibu, katakan Ibu mengerti bahwa dia ingin tahu ada apa di dalamnya. Namun, katakan juga bahwa perilaku itu tidak sopan. Ibu malu kalau sampai rok Ibu tersingkap dan dilihat orang lain sebab hal ini merupakan sesuatu yang sangat pribadi, tidak sembarangan orang boleh melihatnya. Tubuh manusia tidak boleh dilihat sembarangan orang yang tidak dikenal. Karena itu, manusia harus memakai baju.

Sumber : Kompas.com
Baca Selengkapnya..!!

Kamis, 24 Februari 2011

Kebahagiaan dan Kesehatan

Wejangan itu muncul dalam film Eat Pray Love yang dibintangi Julia Roberts ketika ia sedang berlibur ke Italia. Julia Roberts memerankan Elizabeth Gilbert, penulis buku yang kisah pencarian dirinya diangkat dalam film tadi. Film ini sempat amat ditunggu-tunggu penonton Indonesia itu karena, selain mengambil setting di Italia dan India, juga Bali.

Stres dan rasa waswas yang kronis dapat memengaruhi sistem biologi dalam tubuh kita
 
Judul tulisan ini diambil dari laporan utama majalah triwulanan Harvard Public Health Review edisi Winter 2011. Benarkah suasana hati yang senang (good moods) adalah obat yang mujarab? Dapatkah penampilan yang ceria membuat Anda jarang terserang penyakit jantung? Apakah harapan dan rasa ingin tahu melindungi kita dari hipertensi, diabetes, dan infeksi saluran napas? Betulkah orang-orang yang lebih bahagia akan hidup lebih panjang umur, dan jika demikian, mengapa?

Itulah contoh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti yang mengeksplorasi bidang baru kesehatan masyarakat yang terkadang masih kontroversial: mendokumentasi dan memahami kaitan antara emosi positif dan kesehatan yang baik.

Sejauh ini sudah teramat banyak kepustakaan dan penelitian tentang bagaimana emosi negatif membahayakan tubuh kita. Amarah kronis dan kecemasan dapat mengganggu fungsi jantung dengan mengubah stabilitas elektrik jantung, mempercepat atherosklerosis (penyumbatan pembuluh nadi), dan meningkatkan peradangan (inflamasi) sistemik.

Menurut psikiater sosial dr Nalini Muhdi SPKJ dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, memang amat banyak kepustakaan dan publikasi ilmiah tentang kaitan antara emosi negatif dan kesehatan. Salah satunya adalah buku teks psikiatri Psychosomatic Medicine yang ditulis Michael Blumenfield (2006), yang juga membahas kondisi mental-emosional yang meningkatkan penyakit/serang jantung.

Depresi misalnya dapat meningkatkan kadar C-reactive protein (CRP) dalam aliran darah yang berkiatan dengan inflamasi atau penggumpalan atau koagulasi darah. Amarah selain meningkatkan tekanan darah juga diidentifikasi sebagai salah satu pemicu yang paling lazim dan paling menentukan bagi munculnya myocardial ischemia (berkurangnya suplai darah ke otot jantung) dalam aktivitas harian.

Stres dan rasa waswas yang kronis dapat memengaruhi sistem biologi dalam tubuh kita sedemikian rupa sehingga menjadi pemicu penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Penyebabnya karena orang yang mengalami stres serius terbukti mengalami peningkatan kadar kolesterol dan gula darah. Ini menurut dr Nalini terbukti dari studi terhadap para pasien yang menghadapi operasi besar yang biasanya tegang dan cemas.

Untunglah Laura Kubzansky, guru besar Harvard School of Public Health (HSPH) menyatakan, ”Emosi-emosi negatif hanyalah separuh dari persamaan. Tampaknya ada manfaat kesehatan mental yang positif yang membuat Anda tidak mengalami depresi. Apa itu, masih sebuah misteri. Namun jika kita memahami rangkaian proses yang terlibat, kita akan memiliki wawasan tentang bagaimana kesehatan bekerja.”
 
Vitalitas emosional

Kubzansky adalah satu peneliti utama yang mengikuti kesehatan lebih dari 6.000 pria dan perempuan berusia 25-74 tahun selama 20 tahun. Ia menemukan, misalnya, vitalitas emosional—rasa antusias, berpengharapan, kegairahan dalam hidup (elan vitalea), dan kemampuan menghadapi tekanan kehidupan—terbukti turunkan risiko penyakit jantung koroner. Efek protektifnya amat nyata dan dapat diukur, kendati sudah memperhitungkan variabel perilaku, seperti tak merokok dan melakukan latihan fisik teratur.

Di antara lusinan makalah yang sudah dipublikasikan HSPH sejak tahun 2007, Kubzansky juga memaparkan bahwa anak-anak yang dapat tetap fokus untuk melakukan tugas dan memiliki penampilan yang lebih positif pada usia 7 tahun dilaporkan memiliki kesehatan umum yang lebih baik dan mengalami sedikit penyakit 30 tahun kemudian. Optimisme terbukti juga memangkas risiko penyakit jantung koroner sampai separuh.

Riset epidemiologi yang dilakukan Kubzansky dan timnya merupakan perpaduan antara psikologi eksperimental dan kesehatan masyarakat. Riset HSPH ini merupakan terobosan karena membantah anggapan dan pendapat lama yang menyatakan bahwa emosi positif menandai absennya suasana hati negatif dan kebiasaan yang merusak tubuh.

Kubzansky tak sependapat dengan pandangan ini. ”Kami percaya bahwa ada yang melampaui fenomena ini, dan kami para ilmuwan baru saja mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit bukti adanya mekanisme biologis, perilaku, dan kognitif yang mungkin berkelindan.”

Riset sebelum ini terbukti mendukung temuan Kubzansky. Tahun 1979, Lisa Berkman, Direktur Pusat Studi Kependudukan dan Pembangunan Harvard, waktu itu memublikasikan hasil riset terhadap sekitar 7.000 orang dewasa di Alameda, California. Partisipan yang dilaporkan kurang memiliki ikatan sosial pada awal survei ternyata lebih dari dua kali peluangnya meninggal setelah diikuti selama sembilan tahun.

Dr Nalini memberikan beberapa tips praktis untuk menjaga keseimbangan antara kesehatan jiwa dan kesehatan fisik, misalnya lebih aktif terlibat dalam kegiatan sosial, tak jadi pencemas dan menghilangkan perasaan- perasaan negatif, harapan yang tak realistis perlu diturunkan, berorientasi pada saat ini, menjadi diri sendiri, lebih teratur dalam hidup, menyukai humor dan tersenyum/tertawa, serta melakukan kegiatan relaksasi, seperti meditasi hingga pijat, yoga, dan spa.

”Humor dan tertawa terbukti dapat meningkatkan antibodi Immunoglobulin A (IgA) yang membantu melawan infeksi, meningkatkan jumlah sel-sel T yang berguna untuk melawan penyakit, dan dapat menurunkan tekanan darah,” kata dr Nalini.
Karena itu rajinlah tertawa! Asal bukan tertawa sendirian yang tak jelas penyebabnya.... Dan jangan lupa: Dolce far niente....
IRWAN JULIANTO

Sumber : Kompas Cetak
Baca Selengkapnya..!!

Rabu, 23 Februari 2011

Jerawat Jadi Dorongan Bunuh Diri

Tindakan bunuh diri sering dipilih oleh orang sebagai jalan keluar dari siksaan batin yang dialaminya. Salah satu hal yang bisa membuat seseorang merasa tertekan itu ternyata bisa berupa hal yang sepele untuk orang lainnya, contohnya persoalan jerawat.

Jerawat yang memenuhi wajah seseorang sudah sejak lama diketahui menjadi sumber depresi, terutama pada remaja. Dalam sebuah penelitian terhadap 6.000 orang yang mendapat pengobatan untuk masalah jerawat yang parah, ditemukan 93 persennya mengaku merasa ingin bunuh diri.

Para peneliti dari Karolinska Institute di Stokholm, Swedia, yang melakukan riset ini mengatakan keinginan bunuh diri itu bisa dipicu oleh rasa frustrasi dengan penampilan fisik mereka. Lagi pula, banyak pasien yang mengatakan, meski penampilan fisik mereka sudah membaik, kehidupan sosialnya tidak. Ditambah lagi terkadang pengobatan yang dilakukan tidak membuat jerawat-jerawat itu pergi.

Selain faktor penampilan fisik, para peneliti juga mencurigai efek samping obat jerawat jenis isotretinoin yang diresepkan dokter mungkin memicu rasa depresi. Para dokter di Inggris memang mengatakan pasien yang mengonsumsi obat isotretinoin sering mengalami perubahan mood dan pikiran untuk bunuh diri.

Masa remaja memang menjadi masa yang sulit bagi sebagian orang. Pada masa ini mereka juga kerap mengalami gangguan dari teman-temannya, baik berupa kekerasan verbal, seperti ejekan dan hinaan, maupun kekerasan fisik.

Menurut psikolog dari Universitas Warwick, semua tipe dan gangguan yang dialami mengakibatkan menurunnya kepercayaan diri. Namun, manipulasi sosial, seperti disingkirkannya korban dari pergaulan, berakibat lebih parah. Korban bisa stres berat bahkan merasa dirinya tidak lagi berharga. Remaja yang memiliki perasaan seperti ini jika tidak segera mendapat bantuan kemungkinan besar  akan terdorong melakukan bunuh diri.
Sumber : The Daily Telegraph
Baca Selengkapnya..!!

Minggu, 23 Januari 2011

Usia 18 Bulan, Bayi Mulai Pintar Berhitung

Sebuah penelitian menunjukkan, seorang balita mulai belajar berhitung pada usia yang lebih dini dari yang pernah diperkirakan. Tim yang melakukan penelitian itu menemukan, para balita mulai mengenali ilmu hitung pada usia 18 bulan.

Tim peneliti tersebut menyandarkan kesimpulannya dari hasil pengamatan mereka terhadap 36 balita. Para balita itu diperlihatkan video yang menggambarkan enam ekor ikan. Satu versi menunjukkan video dengan tangan yang menunjuk pada setiap ikan dengan disertai hitungan verbal satu sampai enam. Sedangkan versi lain juga disertai hitungan verbal sampai enam namun dengan tangan yang hanya menunjuk pada dua ekor ikan terus-menerus.

Hasilnya, para balita itu lebih memerhatikan video yang menunjukkan urutan berhitung yang benar.

"Ini menunjukkan bahwa manusia belajar berhitung pada usia yang lebih dini berdasarkan paparan rutinitas berhitung dalam budayanya," simpul profesor Virginia Slaughter dan koleganya dari University of Queensland.

Menurut profesor Slaughter, hasil penelitian itu membuktikan balita mulai menyerap prinsip abstrak berhitung dengan mengamati proses berhitung yang benar sebelum bisa berhitung sendiri.

Ia juga menambahkan, anak-anak mulai bisa berhitung setelah usia dua tahun. Namun sebelum itu, balita melihat banyak contoh berhitung yang diperagakan orang tua, saudara-saudaranya yang lebih tua atau yang ditampilkan di televisi.(Telegraph/Agung Dwi Cahyadi)
Sumber : National Geographic Indonesia
Baca Selengkapnya..!!

Aborsi Timbulkan Gangguan Mental

Upaya penghentian kehamilan atau aborsi ternyata tidak meningkatkan risiko gangguan mental pada pelakunya. Hal ini terungkap dalam riset yang diadakan di Denmark terhadap 365.550 remaja dan wanita yang pernah melakukan aborsi atau melahirkan anak pertama.

Dalam penelitian yang dilakukan, seluruh responden adalah perempuan sehat yang tidak memiliki riwayat masalah mental yang mengharuskan mereka mendapat perawatan di rumah sakit. Para peneliti menggunakan data pendaftaran di rumah sakit secara nasional sehingga bisa menelusuri riwayat kesehatan responden, sebelum dan setelah aborsi.

Penelitian dilakukan untuk melihat kesehatan mental responden selama periode 1995 dan 2007. Dalam periode itu 84.620 wanita melakukan aborsi dan 280.930 wanita melahirkan anak pertama.

Para peneliti lalu membandingkan status kesehatan mental responden sebelum dan setelah aborsi. Pada masa setahun setelah aborsi, 15 dari 1.000 wanita melakukan konseling psikiatri. Jumlah ini setara dengan wanita yang mencari bantuan konseling sembilan bulan sebelum tindakan aborsi.

Wanita yang melakukan aborsi, menurut peneliti, kebanyakan berasal dari kelompok yang memang sudah memiliki problem emosional sejak awal. Kebanyakan wanita dalam kelompok ini juga memiliki tingkat ekonomi rendah dan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Namun penelitian ini tidak mencari tahu mengapa kehamilan itu diakhiri.

Tindakan aborsi di Denmark merupakan tindakan legal dan diatur dalam undang-undang sejak 1973.

Sementara itu, kelompok perempuan yang melahirkan dan mengalami masalah mental justru lebih tinggi. Tujuh dari 1.000 wanita melahirkan mendapatkan terapi konseling. Jumlah ini naik dari 4 wanita sebelum mereka melahirkan.

Masalah mental yang dialami wanita dari kedua kelompok adalah kecemasan, stres berat, dan depresi.

Sumber : AP
Baca Selengkapnya..!!

Bertahan Dalam Kesulitan Hidup

”Saya laki-laki berumur 38 tahun, sulung dari 6 bersaudara, empat orang sudah menikah. Saya baru lulus magister bulan November lalu dari sebuah PTS di Yogyakarta, tetapi sampai sekarang belum mendapat pekerjaan. Saya malu pada adik-adik dan teman. Usia makin tua, tapi belum punya pekerjaan. Saya juga belum punya pacar. Lha, bagaimana pacaran, wong hasil les privat selama kuliah S-2 ndak seberapa. Saya ndak berani.

Sebelum kuliah S-2, saya bekerja di sebuah SMP swasta (4 tahun) dan SMA swasta (1 tahun). Karena saya lulusan ilmu murni, saya tidak mempunyai akta IV yang diperlukan sebagai tanda boleh mengajar sehingga saya selama itu tetap honorer. Honor saya kecil sekali sehingga saya juga memberi les kadang sampai pukul 21.00 baru pulang. Sebagian uang itu saya tabung karena saya dari dulu memang ingin kuliah S-2.

Setelah lulus, sudah ada sepuluh lebih PTS yang saya lamar, baik itu yang membuka lowongan maupun yang tidak. Baru dua yang memberi jawaban bahwa PTS mereka tidak memerlukan tenaga pengajar baru. Saya sungguh tertekan dengan keadaan ini ditambah dengan nenek yang terkena stroke dan Mamah yang mengidap diabetes dan keadaan tokonya yang sepi.
Saya sungguh malu, merasa tidak berguna, padahal dulu saya berpikiran kalau sudah S-2 pasti akan mudah mendapat pekerjaan. Aktivitas sekarang hanya merawat nenek dan beres-beres rumah yang memang sangat luas. Saya tahu Mamah juga memikirkan saya. Bagaimana ya, Bu? JK-Purwokerto. 
 
Jawaban
Saya ikut prihatin dengan kondisi sulit yang tengah dialami. Saya bisa merasakan kekhawatiran, rasa cemas, dan malu pada lingkungan akan masa depan Anda yang belum jelas karena belum ada pekerjaan dan penghasilan tetap, maupun pasangan hidup, sementara umur makin bertambah. Saya bisa mengerti kalau Anda sangat tertekan dengan semua ini. Bagaimanapun, saya berharap Anda masih bersikap optimis menghadapi kehidupan ini.

Memikul dan melepas beban
Saya mendapatkan artikel menarik dari milis teman sejawat beberapa bulan lalu (Psiindonesia.org.tiwinherman, 2010) yang isinya sebagai berikut:
Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Steven Covey, pakar Leadership-7 Habits, mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: seberapa berat menurut Anda segelas air ini?
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr. ”Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya,” kata Covey.

”Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”

”Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya,” lanjut Covey. ”Yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi.”

Nah, Sdr JK, dari artikel itu saya ingin mengajak Anda agar kita tidak sepanjang hari terus merasa merana dan memikirkan kesulitan yang sedang kita tanggung. Cobalah meninggalkan beban kita secara periodik agar kita dapat merasa lebih segar, kuat, dan mampu membawanya lagi. Misalnya sebelum tidur tinggalkan dulu beban itu. Apa pun beban yang ada di pundak kita hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi, untuk dipikirkan juga jalan keluarnya.

Mengubah cara pandang
Ada beberapa hal yang dapat Anda lihat sebagai hal positif dan menghibur Anda. Karena belum bekerja tetap, Anda justru bisa menemani dan membantu nenek. Apalagi rumahnya besar, pasti tenaga Anda sangat dibutuhkan, Jadi, sebenarnya keberadaan Anda sangat berarti bagi nenek, dan itu bisa memberi makna mendalam buat Anda, bukan? Anda tetap menjadi manusia yang berguna di mata nenek. Ia pasti mendoakan Anda agar Anda sukses dalam kehidupan nanti.

Cobalah juga untuk melihat orang-orang sekeliling yang lebih pahit dan sulit hidupnya. Misalnya kenalan yang masih muda tapi sakit keras sehingga tak bisa mencari nafkah untuk keluarganya. Artinya, syukurilah bahwa tubuh Anda sehat sampai sekarang sehingga dapat tetap bekerja, berusaha, berpikir jernih, dan berkreasi.

Melangkah ke depan
Kunci utama agar tidak terlarut dalam perasaan negatif yang bisa ”melumpuhkan” kita adalah harus tetap punya harapan, sepahit apa pun hidup selama ini. Dengan kata lain kita perlu memotivasi diri kita agar terus berdaya menghadapi hari esok. Kita juga dapat menyimak beberapa asas sukses dari Skip Ross (1978) agar kita sukses dalam memperoleh dan mempertahankan pekerjaan kita.

1. Asas Tindakan (Lakukan sekarang, jangan menunda).

2. Asas Antusiasme (Curahkan segenap daya-upaya: pikiran, semangat, dan rasa terhadap setiap kegiatan yang dilakukan).

3. Asas Disiplin Diri (Lakukan apa yang seharusnya dilakukan, terlepas dari senang atau tidaknya melakukan pekerjaan itu).

4. Asas Kegigihan (Lakukan terus-menerus sesuatu sampai tuntas walaupun menghadapi berbagai rintangan, kendala, dan penolakan. Contohnya adalah Kolonel Sanders yang punya resep ayam goreng yang terkenal di seluruh dunia. Ia mengalami penolakan sampai 1.008 kali sebelum akhirnya berhasil diterima di sebuah restoran).

Jadi pantanglah menyerah. Sambil merawat nenek, teruslah mengirim lamaran kerja atau menerima les privat secara santai, sesuaikan dengan waktu sisa Anda setelah mengurus nenek dan rumahnya. Atau Anda juga dapat menciptakan pekerjaan baru, yang mungkin sama sekali berbeda dengan pengalaman mengajar selama ini.

Jangan lupa untuk terus-meneruslah berdoa karena menurut Paul Arden (2007), jika kita berdoa dengan tekun dan sabar untuk satu hal, kita sering kali memperoleh apa yang kita inginkan. Namun, jika kita mendoakan banyak hal sepintas lalu, doa kita tak akan terkabul, karena kita tak sungguh-sungguh menginginkannya.
Salam sukses.
Agustine Dwiputri, Psikolog.
Sumber : Kompas Cetak
Baca Selengkapnya..!!

Kekerasan Sexual Dipengaruhi Film Porno

Sebagaimana berbahayanya narkoba, pornografi juga sangat mudah menghancurkan masa depan seorang anak. Sebuah penelitian menunjukkan, anak-anak yang akrab dengan tayangan film porno akan tumbuh menjadi orang dewasa yang menganggap kekerasan seksual sebagai hal biasa.

Sikap permisif pada kekerasan seksual ini, menurut Michael Flood, peneliti, disebabkan mereka mendapat "pelajaran" dari media yang salah.

"Pornografi adalah edukator seks yang buruk karena menunjukkan hubungan seksual yang tidak realistis. Tidak ada film porno yang bisa menunjukkan keintiman, cinta dalam sebuah hubungan atau romantisme. Paling banyak sifat film porno adalah kasar dan kekerasan pada perempuan," kata Flood.

Flood melakukan penelitian bertajuk The Australian Research Centre in Sex, Health and Society. "Ada banyak bukti dari seluruh dunia bahwa pornografi berdampak negatif bukan hanya pada individu, tapi juga komunitas," katanya.

Dalam riset yang dilakukannya, ia juga menemukan bahwa anak-anak penggemar film porno ini di usia dewasa sering gagal membina hubungan dengan pasangan. Mereka juga lebih sering melakukan hubungan seksual tanpa ikatan.

Para peneliti dari University of Montreal menyebutkan, rata-rata seorang anak laki-laki pertama kali menonton film porno di usia 10 tahun.

Di Inggris, seorang bocah berusia enam tahun membawa gambar porno ke sekolah dan berakting melakukan adegan hubungan seksual saat jeda pelajaran.

"Ketika kami mendatangi rumahnya, sang ayah sedang mengunduh film-film porno dari internet dan ada banyak gambar porno bertebaran di rumah," kata John Carr, Sekretaris Children's Charities Coalition on Internet Safety.

Menurut Petra Boynton, psikolog, pada umumnya anak-anak melihat materi pornografi karena mereka merasa bosan dan kurang pengawasan. Oleh karena itu, ia mengingatkan para orangtua untuk memberi pemahaman masalah seks pada anaknya secara benar dan sehat.
Sumber : USA Today
Baca Selengkapnya..!!
 

Copyright 2011 All Rights Reserved | HERBALISTORE Designed by OKEGAN | CSS done by herbalistore