Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2011

Asi VS Susu Botol

Mendapatkan air susu ibu (ASI) merupakan salah satu hak asasi bayi. Sejak awal kelahiran bayi seharusnya mendapatkan ASI.  Dibandingkan dengan air susu mamalia lain, ASI mengandung semua nutrisi terbaik yang dapat memenuhi semua kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, terutama kecerdasannya.

"Komposisi ASI sejak awal keluar berubah-ubah sesuai kebutuhan bayi baru lahir," kata dr.I Gusti Ayu Partiwi, Sp.A, dalam acara seminar mengenai Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif dalam Mendukung MDG's, yang diadakan oleh Departeken Kesehatan di Jakarta (29/3/11).

Ketika bayi baru lahir, payudara ibu hanya menghasilkan cairan bening yang berisi kolostrum. Cairan ini berjumlah sedikit dan mengandung zat antibodi untuk menangkal penyakit. "Jumlahnya sedikit karena antibodi memang tidak perlu banyak-banyak. Lagipula lambung bayi masih sangat kecil," kata dokter yang akrab disapa dr.Tiwi ini.

Ia menambahkan, ASI mengandung nilai nutrisi yang secara kuantitas seimbang serta secara kualitas sangat unggul. Komposisi nutrien yang terkandung dalam ASI sangat tepat untuk tumbuh kembang bayi.

"Jika dibandingkan dengan air susu sapi yang mengandung protein 3,4 persen, protein dalam ASI memang lebih rendah, hanya 0,9 persen. Ini karena protein diperlukan tubuh untuk mengembangkan otot. Manusia tidak butuh otot banyak-banyak karena kita bukan sapi yang perlu membajak sawah," tutur dokter yang menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas ASI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia ini.

Sementara itu kandungan laktosa di dalam ASI jauh lebih tinggi dibanding susu sapi. Laktosa dalam susu manusia mencapai 7 persen, sedangkan pada sapi hanya 4,8 persen. Fungsi laktosa ini adalah untuk mielinasi otak atau menghantarkan rangsangan yang sangat penting untuk kecerdasan.

"Stimulasi atau rangsangan pada bayi baru lahir hanya didapatkan melalui proses menyusui karena bayi hanya sensitif pada kelima pancara indera. Jika diberi susu formula mahal saja bayi tidak akan pintar. Ia harus dirangsang melalui pelukan, dekap, dan ditatap matanya," jelas dr.Tiwi.

Keuntungan lain dari ASI adalah mengandung DHA, asam lemak omega 3, serta mengandung enzim-enzim yang mampu mencerna DHA. "Di dalam susu formula memang ada DHA, tapi tidak ditemukan enzim yang sama seperti dalam ASI karena lipase, enzim ini baru dihasilkan saat bayi berusia 6-9 bulan," tuturnya.

Penelitian juga menunjukkan, bayi-bayi yang mendapatkan ASI lebih jarang terkena alergi. "Ini karena ASI mengandung protein whey yang akan melindungi dinding usus bayi," ujarnya.

sumber:kompas.com
Baca Selengkapnya..!!

Senin, 18 April 2011

Solusi Untuk Anak Tak Suka Buah, Sayur, dan Susu

APA yang dapat Anda lakukan ketika si kecil menolak makanan yang sangat ia dibutuhkan? Sebagian besar Anda mungkin menjawab terus mencoba memperkenalkannya. Tapi jika hanya teknik ini yang dijalani, hasilnya tidak selalu efektif.

Belum lama, Dietary Guidelines Advisory Committee-sekelompok ilmuwan independen yang menyarankan pemerintah pada konsumsi ideal rakyat Amerika—mengidentifikasi bahwa baik anak-anak maupun orang dewasa perlu mendapatkan lebih banyak kalsium, vitamin D, kalium, dan serat. Anda bisa mendapatkan nutrisi tersebut dalam susu, buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian—sederet makanan yang biasanya dijauhi anak-anak.

Berikut solusi untuk membantu si kecil yang pemilih makanan (picky eaters) untuk mendapatkan makanan dan nutrisi yang mereka butuhkan, seperti dikutip Eating Well.

Tidak suka buah

Solusinya, olah buah-buahan dalam dalam milkshake. Sebagian besar buah-buahan memberikan jumlah kalium dan vitamin C yang cukup sedangkan smoothie berbahan buah merupakan cara yang pas untuk menyembunyikan buah dalam penyajiannya.

Kebanyakan anak-anak merasa tertarik untuk menyedot minuman dengan sedotan. Smoothie dari toko sering dimuat dengan banyak tambahan gula, sehingga untuk menu yang lebih sehat, buatlah sendiri di rumah.

Anak tidak suka makan brokoli (dan sayuran lainnya)

Solusinya, siram dengan saus keju. Menambahkan keju di atas sayuran, seperti brokoli, kembang kol, atau kubis membantu “menjinakkan” rasa yang membuat anak malas memakannya. Memang, keju umumnya mengandung lebih banyak kalori dan lemak jenuh daripada produk susu rendah lemak, tapi keju juga memberikan sedikit kalsium.

Kuncinya adalah dengan menambahkan keju hanya cukup untuk membuat rasa sayuran enak, tidak menghilangkan kalori dan lemak sayuran.

Anak tidak suka minum susu

Solusinya, tambahkan cokelat. Nyatanya, susu cokelat lebih disukai anak-anak ketimbang susu vanilla. Kalau Anda memaksakan susu full cream hingga akhirnya ia minum susu, anak akan kehilangan nutrisi penting yang telah disediakan oleh susu.

Dengan atau tanpa rasa, susu memberikan kalsium (1 cangkir menyediakan sepertiga dari kebutuhan sehari-hari), vitamin D, riboflavin, niasin, fosfor, dan protein. Cokelat susu memang mengandung gula tambahan, tapi tampaknya minuman susu dengan rasa tidak berarti Anda tidak bisa menambahkan gula diet untuk anak-anak. Sebab menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Dietetic Association, anak yang minum susu dengan rasa memiliki asupan kalsium yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak minum susu tanpa rasa, tapi keseluruhan asupan gula tambahan mereka adalah sama.
Baca Selengkapnya..!!

Jumat, 25 Maret 2011

11 Penyakit Bayi yang Baru Menginjak Tahun Pertama


Inilah 11 penyakit yang sering dialami bayi di tahun pertamanya. Kenali agar ibu tidak mudah panik ketika bayi tiba-tiba sakit, namun tetap waspada.

Apnea (tidak bernapas spontan). Apnea merupakan penyakit dimana seseorang tidak bernapas selama beberapa detik secara spontan ketika tidur. Tidak hanya orang dewasa, bayi yang baru lahir dan khususnya bayi prematur pun bisa mengalami apnea.

Sesak napas. Bayi yang mengalami sesak napas akan mengalami kesulitan saat menarik napas, atau napas bayi berbunyi disertai batuk. Waspada jika wajah bayi menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen.

Ruam popok. Ruam popok merupakan penyakit yang membuat kulit bayi iritasi. Biasanya iritasi ini disebabkan karena pemakaian popok yang tidak benar.

Kuning (jaundice). Penyakit kuning ini biasanya membuat kulit dan mata bayi berwarna kuning. Sampai batas-batas tertentu, penyakit ini tidak berbahaya, tapi ibu perlu waspada jika kuning pada bayi tidak kunjung hilang.

Eksim susu (dermatitis atopi). Eksim susu merupakan salah satu masalah kulit paling umum ditemukan pada bayi. Mitosnya, dinamakan eksim susu karena ASI yang mengenai kulit di sekitar mulut bayi yang menyebabkan bercak merah. Benarkah?

Batuk pilek. Virus bisa menjadi penyebab penyakit ini menyerang bayi. Segera bawa ke dokter jika bayi batuk pilek hingga kemampuan minumnya berkurang, atau tidak sembuh lebih dari seminggu.

Infeksi saluran napas. Infeksi saluran napas merupakan segala bentuk infeksi yang menyerang saluran pernapasan atas (ISPA). Tak jarang juga saluran pernapasan bawah. Infeksi saluran napas ini bisa saja terjadi pada bayi baru lahir (newborn).

Infeksi telinga tengah. Infeksi telinga tengah menyerang salah satu bagian telinga, yaitu telinga bagian tengah atau daerah sekitar gendang telinga.

Sembelit. Biasanya terjadi karena bayi kekurangan cairan atau akibat perubahan makanan dan dimulainya pemberian makanan padat pertama. Waspada jika sembelit masih terjadi sampai lebih dari satu bulan.

Muntah. Muntah bisa terjadi karena bayi kekenyangan, terlalu banyak udara dalam lambung, dan sebagainya. Waspada bila bayi terus menerus muntah tanpa henti.

Diare. Virus yang biasa disebut rotavirus seringkali menjadi penyebab diare, di samping penyebab-penyebab lainnya. Ibu harus waspada jika diare disertai darah.


Penyakit-penyakit tersebut di atas memang biasa dan mungkin terjadi pada bayi Anda sejak lahir hingga usia-usia tertentu. Tidak perlu panik, tapi jika kondisi semakin parah dan Anda harus waspada, sebaiknya segera bawa ke dokter.

sumber: bayisehat.net
Baca Selengkapnya..!!

Senin, 14 Maret 2011

KEKURANGAN VITAMIN D ANAK BISA ALERGI

Anak-anak yang kekurangan vitamin D cenderung akan mengalami alergi makanan dan juga alergi dari lingkungan (rintisan alergi) dibandingkan dengan anak yang cukup vitamin D. Beberapa studi sudah membuktikan hal tersebut.

Penelitian menunjukkan, anak yang mengalami defisiensi vitamin D 2,3 kali lebih tinggi risikonya menderita alergi dari kulit pohon oak dan 2,4 kali lebih tinggi menderita alergi kacang. Mereka juga lebih rentan pada beberapa jenis alergen, seperti ilalang, anjing, kecoa, udang, dan debu.

Penelitian dilakukan dengan mengukur kadar vitamin D dalam darah. Anak yang kadar vitamin D-nya 15 nanogram per mililiter darah diangggap mengalami defisiensi vitamin D.

Riset juga menemukan, di Amerika Serikat, jumlah orang yang kekurangan vitamin D dan penderita alergi naik. "Hasil studi ini menunjukkan dua fenomena itu mungkin saling berkaitan," kata peneliti.

Vitamin D dipercaya memiliki efek anti-inflamasi dalam tubuh. Studi sebelumnya menunjukkan, jumlah orang yang mengunjungi unit gawat darurat akibat alergi makanan cenderung meningkat pada musim dingin. Kadar vitamin D dalam tubuh juga diketahui berada pada level paling rendah di musim ini karena sel kulit membutuhkan sinar matahari untuk memproduksi vitamin D aktif dari komponen lain dalam tubuh.

Sumber : LiveScience
Baca Selengkapnya..!!

Rabu, 02 Maret 2011

TIPS MERAWAT KULIT SI BUAH HATI

Para Ibu pasti sangat peduli dengan kesehatan kulit si kecil. Kulit bayi yang halus dan sensitif perlu diperhatikan secara khusus. Berikut beberapa tips yang bisa memudahkan Anda.

Bayi biasanya dimandikan dengan air hangat. Namun jangan terlalu panas. Air terlalu panas akan membuat kulit si kecil kering. Temperatur yang tepat untuk air mandi bayi adalah sekitar 37-38 derajat celcius.

Gunakan produk mandi khusus bayi. Jangan pernah mencoba memandikan Anak Anda dengan sabun untuk dewasa. Kandungan yang ada di dalam sabun itu terlalu kuat bagi kulit lembut bayi Anda.

Setelah mandi, pijat tubuh si kecil dengan menggunakan baby lotion. Selain akan menambah kelembaban kulit, pijatan lembut akan membuat si baby lebih rileks.

Hati-hati saat memakaikan popok, terutama popok sekali pakai. Popok sekali pakai biasanya akan membuat kulit bayi memerah. Jangan terlalu ketat saat memakaikan popok agar kulit bayi tidak memerah bahkan terluka.

Cuaca juga bisa membuat kulit bayi terganggu. Jika udara sedang kering, sebaiknya sering-sering oleskan kulit bayi dengan lotion khusus. Hal itu akan membuat si baby terhindar dari iritasi kulit.

Saat memilih busana untuk si kecil, pastikan bahannya terbuat dari katun 100 persen. Bahan katun bisa menyerap keringan dan lembut di kulit bayi. Si kecil pasti nyaman memakainya.

Saat memilih produk perawatan kulit, pastikan produk tersebut terbuat dari bahan yang organik. Terlalu banyak bahan kimia akan merusak kulit si kecil.

sumber: dechacare.com
Baca Selengkapnya..!!

KIAT MENJAGA KESEHATAN ANAK ANDA

Menjaga kesehatan anak menjadi perhatian khusus para ibu, terlebih saat pergantian musim yang umumnya disertai dengan berkembangnya berbagai penyakit. Saat pergantian musim terjadi, tubuh beradaptasi ekstra keras menghadapi perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan. Udara yang semula panas-kering, tiba-tiba menjadi dingin-lembap. Kondisi ini, menimbulkan ketidaknyamanan, juga membuat tubuh mudah terserang penyakit. Umumnya musim pancaroba diawali hujan yang tidak merata. Ini menyebabkan sebagian kawasan masih tetap berdebu dan berudara panas. 

Selanjutnya, debu dan kotoran yang masih tersisa di kawasan tersebut dengan mudah diterbangkan angin ke kawasan lain, dan menjadi vektor (pembawa) penyakit. Anak-anak, terutama usia balita, termasuk yang rentan penyakit di musim pancaroba. Kalau dibiarkan, bukan tidak mungkin berkembang menjadi gangguan kesehatan yang merugikan. 

A. Demam
Demam adalah salah satu gangguan kesehatan yang kerap diderita anak di musim pancaroba. Ini bisa jadi lantaran baru di musim pancaroba inilah anak-anak digempur serangan berbagai kuman (biasanya virus) secara besar-besaran. Demam bukan penyakit. Melainkan gejala bahwa tubuh tengah membangun pertahanan melawan infeksi. Lebih tepatnya, demam bisa merupakan gejala aneka penyakit. Mulai infeksi ringan sampai yang serius. 

B. Penyakit Saluran Pernafasan
Salah satu penyakit anak di musim pancaroba yang didahului demam adalah penyakit pada sistem pernapasan. Demam yang merupakan gejala penyakit sistem pernafasan biasanya ringan sampai sedang (37,4 – 39,4 derajat Celsius). 

Tapi pada beberapa kasus influensa pada anak, demam bisa mencapai 39,9 derajat Celsius. Gejala awal penyakit saluran pernapasan bisa berupa batuk, yang kadang disertai sesak napas. Bisa juga berupa batuk yang disertai pilek, bersin-bersin dan peningkatan suhu tubuh. Bisa juga muncul gejala khusus, yaitu pernapasan yang tidak normal. 

Berdasarkan lokasi yang diserang, penyakit ini dibedakan menjadi dua:
b1. Penyakit saluran pernapasan bagian atas .
Umumnya gejala penyakit saluran napas bagian atas lebih ringan, misalnya batuk-pilek. Hanya saja pada kasus tertentu bisa muncul gejala yang serius, misalnya demam yang agak tinggi (pada radang tenggorok) dan toksemia atau keracunan (pada difteri). 

b2. Penyakit saluran pernapasan bagian bawah.
Gangguan di bagian ini bisa memunculkan bronkopneumonia, yaitu radang paru-paru yang berasal dari cabang-cabang tenggorokan yang mengalami infeksi, dan bronkioetitis, yaitu infeksi serius pada cabang terakhir saluran napas yang berdekatan dengan jaringan paru-paru.

C. Penyakit Saluran Cerna
Di peralihan musim kemarau ke musim hujan, kasus penyakit ini menjadi tinggi lantaran banyaknya debu dan kotoran yang berpotensi menjadi vektor. Penyakit ini juga sangat erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan. Sebab penyakit ini umumnya disebabkan kuman atau virus yang biasa mencemari makanan dan minuman, apakah itu makanan buatan rumah ataupun makanan jajanan dari luar rumah. Mengingat pola makan anak yang cenderung semaunya, kemungkinan terjadinya penyakit ini menjadi sangat besar. 

Penyakit saluran cerna biasanya didahului keluhan mencret, mual dan muntah. Gejala muntah dan mencret biasanya disertai demam, sakit kepala dan mulas-mulas. Tinja anak mungkin tampak berlendir dan bahkan berdarah (jika penyebabnya bukan infeksi, gejala muntah dan mencret jarang disertai mulas dan tinjanya pun tanpa lendir dan darah). 

Agar tak terjadi hal yang tidak diinginkan, pertolongan pertama biasanya diprioritaskan untuk menghentikan muntah dan mencret. Dan setelah diberi penanganan, dalam 3 hari umumnya keluhan berkurang. Jika tidak, anak perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius. 

D. Pencegahan dan Pengobatan
Menjaga asupan makanan anak. Nutrisi yang cukup, sesuai dengan usia, berat badan dan aktivitas anak anda akan meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit

Melengkapinya dengan multivitamin. Suplemen ini mengandung beragam vitamin esensial (yang tidak bisa dibuat sendiri oleh tubuh). Bila diberikan secara tepat – komposisi dan dosisnya disesuaikan dengan kebutuhan anak – multivitamin bisa membantu meningkatkan ketahanan tubuh sehingga tak mudah terserang penyakit pancaroba.

Pastikan setiap makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulut anak adalah yang terjamin kebersihannya. Artinya, selain harus lebih higienis dalam mengolah dan menyiapkan makanan di rumah, bujuklah anak untuk tidak jajan sembarangan. 

sumber: dechacare.com
Baca Selengkapnya..!!

Selasa, 22 Februari 2011

HATI-HATI VITAMIN BIKIN KURUS

Siapa bilang vitamin bisa menambah nafsu makan? Justru vitamin bisa bikin si kecil makin kurus kalau kelebihan.

Hati-hati, pemberian vitamin secara berlebih dapat menimbun vitamin tersebut dalam tubuh si kecil hingga timbul efek samping, terutama golongan vitamin yang tidak larut dalam air, seperti vitamin A, D, E, dan K.

"Kelebihan vitamin A bisa mengakibatkan kepala jadi pusing-pusing," kata Dr Najib Advani, SpAK, MMed, Paed dari bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Bahkan, vitamin yang larut dalam air pun, semisal vitamin C, juga tidak boleh diberikan dalam dosis tinggi. "Kelebihan vitamin C menimbulkan batu pada ginjal, di samping mengakibatkan iritasi lambung hingga lambung terasa perih. Apalagi, jika pemberiannya dalam jangka waktu lama, anak jadi memiliki ketergantungan pada vitamin C. Istilah kedokterannya, rebound," katanya.

Itulah mengapa, dokter sangat "pelit" kala dimintai resep vitamin sekalipun vitamin si kecil yang dulu ia resepkan sudah habis. Soalnya, pemberian vitamin untuk bayi dan anak memang tidak dianjurkan buat seumur hidup.

Tidak menambah nafsu makan

Umumnya, orangtua memberikan vitamin bagi bayi untuk tujuan menambah berat badan karena vitamin dipercaya bisa menambah nafsu makan. Bahkan, saking vitamin dianggap mujarab mengatasi anak sulit makan, sering terjadi orangtua setengah memaksa dokter agar memberikan vitamin sekalipun pola makan anaknya sudah bagus dan badannya juga gemuk.

Padahal, tidak ada satu pun vitamin yang berkhasiat menambah nafsu makan secara langsung sekalipun saat si kecil tidak mau makan lantaran sakit dan dokter memberinya vitamin. Selain itu, juga bukan karena vitamin tersebut bisa menambah nafsu makan, melainkan agar asupan gizi si kecil tidak kurang. "Kecuali jika bayi kekurangan vitamin B kompleks karena dampaknya memang bikin orang jadi kurang nafsu makan," katanya.

Jadi, jangan percaya omong kosong yang mengatakan vitamin dapat menambah nafsu makan. Jangan pula menganggap, semakin gemuk bayi berarti semakin bagus. Justru bila si kecil yang sudah kurus kerap dikasih vitamin, sementara tubuhnya enggak kekurangan vitamin, barulah kita boleh merasa malu.

Jangan lupa, kelebihan vitamin bisa menyebabkan iritasi lambung. Akibatnya, si kecil malah jadi tidak mau makan. Bila sudah begitu, bukan berat badan bertambah, melainkan tubuh menjadi semakin kurus. "Nah, ini, kan, sama saja kita merawatnya dengan tidak baik. Bukan begitu," katanya.

Konsultasi dokter

Lagi pula, sebagai orang awam, agak sulit buat kita mendeteksi si kecil kekurangan vitamin atau tidak, apalagi pada kasus yang tidak terlalu berat (marjinal). Selain itu, ciri kekurangan vitamin harus pula dilihat kasus per kasus. Kekurangan vitamin A, misalnya, "biasanya di bagian putih mata akan terlihat keruh. Bila didiamkan, lama-lama akan timbul bercak," kata Najib.

Kekurangan vitamin A juga bisa membuat si kecil sering mengalami infeksi, semisal radang tenggorokan. "Bukan berarti bila si kecil mengalami radang tenggorokan, ia kekurangan vitamin A, lho. Jadi, jangan dibalik, ya, Bu, Pak," katanya.

Soal berat badan juga bukan ukuran mutlak anak kekurangan vitamin. "Memang, sering berat badan anak yang kurang vitamin juga kurang. Namun, enggak bisa dibalik bahwa anak yang kurus berarti kurang vitamin," katanya. Metabolisme tubuh anak-anak yang kekurangan vitamin, kata Najib, juga kurang baik hingga berat badannya berkurang.

Jadi, yang terbaik tentulah berkonsultasi lebih dulu dengan dokter, apakah si kecil memang perlu vitamin. "Biasanya dokter akan melihat dulu pola makannya. Jika sudah bagus, ya, enggak perlu vitamin," katanya. Misalnya, bayi yang mengonsumsi ASI. "Bila gizi ibu cukup dan asupan vitaminnya pun baik, berarti bayinya tak mutlak perlu vitamin tambahan. Diharapkan, dari ASI kebutuhan bayi sudah terpenuhi," ucapnya.

Begitu pula bayi yang mengonsumsi susu formula, "bila susu formulanya sudah mengandung vitamin dengan kadar yang cukup berdasarkan recommended daily allowances atau kebutuhan tiap hari bayi, bayi tidak perlu tambahan vitamin," katanya. "Namun, dengan catatan, pola menyusunya juga baik, lho," katanya lagi.

Jikapun si kecil kurus dan sulit makan, dokter juga tidak akan langsung memberi vitamin, tetapi melihat kasusnya dulu. Si kecil yang tidak suka makan sayur dan buah, misalnya, berarti ia butuh vitamin C. Nah, vitamin C inilah yang diberikan.

Empat kondisi

Umumnya, dokter memberikan vitamin kepada bayi bila mengalami salah satu atau lebih dari empat kondisi berikut:

1. Pola makannya tidak bagus.

Kadang bayi mau makan atau minum susu, tapi kadang tidak. Misalnya, bayi usia empat bulan tak menyusu dengan baik, padahal di usia ini ia belum memperoleh makanan tambahan. Jelas ia butuh vitamin. Namun, vitamin apa yang dibutuhkannya, dokterlah yang lebih tahu.

2. Saat sakit atau baru sembuh dari sakit.

Dalam kondisi ini, bayi perlu vitamin. Biasanya bayi yang baru sakit kurang nafsu makan dan kebutuhan vitaminnya pun meningkat. Jadi, agar asupan gizinya cukup, ia boleh menerima vitamin. Setelah sehat kembali, pemberian vitamin dihentikan.

3. Berat badan rendah.

Bayi dengan berat badan rendah atau kurang dari 2,5 kilogram juga perlu tambahan vitamin. Berat badan rendah bisa disebabkan bayi lahir prematur (belum cukup bulan). Biasanya bayi prematur kekurangan zat besi hingga yang dibutuhkan adalah suplemen zat besi. Di pasaran sebenarnya ada formula khusus untuk bayi prematur. Ini bisa diberikan hingga vitamin tidak mutlak perlu.

Lain hal pada bayi lahir cukup bulan tapi kecil. Bayi ini jelas perlu tambahan vitamin. Biasanya bayi kecil yang lahir cukup bulan tapi kecil ini disebabkan ada masalah di plasenta ketika bayi masih di kandungan, hingga suplai makanan dari ibu ke janin kurang bagus. Maka, ia lahir dengan berat badan rendah.

4. Tak terkena sinar matahari.

Bayi yang tak terkena sinar matahari butuh vitamin, khususnya suplemen vitamin D. Namun, kasus ini biasanya terjadi di negara empat musim. Ketika musim dingin tiba, bayi tidak bisa dibawa keluar karena bisa kedinginan dan matahari pun jarang ada.

Di dalam kulit, kata Najib, ada bahan untuk membuat vitamin D. Namun, untuk memproduksi vitamin D, kulit perlu terkena sinar matahari dulu. "Jadi, bila tak ada sinar matahari, proses tersebut tak bisa berlangsung," katanya.

Di negeri kita tentulah jarang sekali terjadi bayi kekurangan vitamin D. Bukankah negeri kita kaya akan sinar matahari? Terlebih lagi, ibu-ibu Indonesia biasanya kerap menjemur bayinya di waktu pagi kala mentari baru menampakkan dirinya.

Kebutuhan mineral

Selain vitamin, pemberian mineral pun tak boleh berlebihan. Bila gigi si kecil tak jua erupsi, misalnya, jangan buru-buru memberinya suplemen kalsium karena belum tentu ia membutuhkannya. Lagi pula, usia normal erupsi gigi antara 6 dan 12 bulan. Toh, ini pun bukan patokan pasti karena ada juga bayi yang sudah erupsi di usia lebih awal semisal empat bulan. Pasalnya, kata Najib, erupsi gigi juga dipengaruhi faktor bawaan anak.

Jadi, bila si kecil menyusunya bagus dan makannya pun baik tetapi ia belum juga mengalami erupsi gigi, berarti ia tak butuh tambahan kalsium. Bukankah kebutuhannya akan kalsium sudah dipenuhi dari susu? Jangan lupa, susu kaya akan kalsium. Sebaliknya, bila si kecil sudah erupsi gigi tetapi minum susunya kurang, ia jelas butuh suplemen kalsium.

Tentu bukan hanya kalsium. Mineral lain seperti fosfor dan fluor pun tak boleh berlebihan. Fluor, misalnya, penting untuk kekuatan gigi. Asupan fluor didapat dari air minum. Bila kadar air minum kurang dari 0,3 PPm (part per million), dibutuhkan suplementasi fluor, bisa dalam bentuk tablet atau multivitamin. Namun, bila kadarnya sudah 0,3 PPm atau lebih, "tambahan fluor jelas tak diperlukan lagi," katanya.
Baca Selengkapnya..!!

Minggu, 23 Januari 2011

Antibiotik Picu Risiko Asma Pada Bayi

Peresepan obat-obatan pembunuh kuman atau antibiotik pada bayi sebelum mencapai usia enam bulan ternyata dapat mengundang risiko. Sebuah penelitian di AS menyebutkan, bayi yang mendapat antibiotik berisiko 70 persen lebih tinggi menderita asma pada masa kecilnya.

Para peneliti di Universitas Yale mengindikasikan, bayi menghadapi peningkatan risiko asma hingga 40 persen bila mendapat resep antiobiotik untuk sekali pengobatan di bulan-bulan awal kelahirannya. Risiko akan naik menjadi 70 persen bila mereka mendapat resep kedua untuk mengobati infeksi yang sulit disembuhkan.

Kajian para ilmuwan ini adalah serangkaian temuan terbaru dalam ilmu obat-obatan yang berkaitan dengan asma pada anak-anak. Para ahli terbagi pendapatnya mengenai dampak antibiotik ini. Ada yang meragukan apakah memang antibiotik menjadi penyebab, ataukah bayi yang dilibatkan dalam studi sudah memiliki bakat mengidap asma.

Meski demikian, dalam laporan terbaru yang bakal dimuat American Journal of Epidemiology, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan tersebut memang kuat. Bahkan setelah memperhitungkan faktor lainnya seperti riwayat asma dalam keluarga.

Dalam risetnya, para ilmuwan di Universitas Yale memantau 1.400 anak untuk melihat apakah peresepan antiobiotik pada usia dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada usia enam tahun.

Anak-anak yang dilibatkan adalah  mereka yang diberi resep antibiotik sebelum usia enam bulan untuk masalah infeksi di luar infeksi bagian dada yang identik dengan gejala asma. Peserta juga termasuk anak-anak yang dilahirkan dari orangtua yang tidak memiliki riwayat asma.

Hasilnya, menunjukkan peningkatan besar risiko terserang asma pada anak-anak yang diberi antibiotik sebelum usia mereka enam bulan meskipun anak tersebut tak punya riwayat asma.

"Menggunakan antibiotik, khususnya dalam spektrum yang luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus anak. Hal itu menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan buruknya respons alergi," papar Dr Kari Risnes, pemimpin penelitian.

Risnes mengharapkan hasil penelitian ini menjadi motivasi khusus bagi dokter agar menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu, terutama pada anak-anak berisiko rendah.

Sumber :daily mail
Baca Selengkapnya..!!

Bolehkah Bayi Diberi Obat Bebas?

Kebanyakan orang tua tak berani memberikan obat bebas pada bayi. Padahal, boleh, kok, bayi diberi obat bebas. Namun dengan catatan, ia memang benar-benar membutuhkannya.

Obat luar lain yang juga perlu resep tapi kerap dipakai serampangan ialah antibiotik.
 
Tentu kita boleh saja menggunakan obat bebas untuk mengatasi sakit si kecil, terutama bila si kecil usianya sudah 6 bulan ke atas. Biasanya obat bebas dibagi 2, yaitu obat luar dan obat telan. "Umumnya, obat luar berupa cairan, salep atau ointment yang digunakan untuk mengatasi luka, bentol-bentol, gatal, atau lainnya," terang dr. Waldi Nurhamzah SpA.

Adapun obat luar bebas yang paling sering dipakai adalah obat antiseptik untuk luka (merkurokrom, boorwater, rivanol, povidone iodine) dan minyak penghangat seperti minyak telon atau minyak tawon. Namun kita harus hati-hati dalam pemberiannya. Perhatikan, apa ada reaksi yang timbul setelah pemberian berupa kemerahan, bentol-bentol, atau lainnya. Soalnya, bisa saja, kan, si kecil tak tahan terhadap obat luar itu.
Sebenarnya, lanjut Waldi, tak banyak obat luar yang bisa dibeli tanpa resep dokter. Misal, obat oles yang mengandung steroid, "sangat ampuh memberantas gatal, eksim, dan beberapa reaksi alergi pada kulit. Namun karena sifat kerasnya, obat luar yang mengandung steroid hanya boleh diperoleh dengan resep saja." Contoh obat ini antara lain Apolar, Benoson, Decoderm, Elocon, Lox, Kenacort, Locoid, Synalar.

Bila obat tersebut dioleskan pada kulit bayi, sebagian obat akan terserap oleh tubuh bayi hingga dapat meningkatkan konsentrasi obat yang tak wajar dalam tubuh bayi. Selain itu, dapat pula terlihat reaksi kulit terhadap obat semisal kulit yang diolesi salep tampak keputihan.

Obat luar lain yang juga perlu resep tapi kerap dipakai serampangan ialah antibiotik. Ini berbahaya. Bila si kecil sensitif pada salep itu, reaksi yang terjadi akan berbahaya. Misal, salep yang mengandung penisilin, tetrasiklin, gentamisin, neomisin. "Jika diberikan pada bayi atau anak yang tak tahan, akan timbul reaksi hebat." Meski cuma dioleskan sedikit, reaksinya bisa fatal, lo.

Obat telan
Untuk obat telan, yang paling pas buat bayi tentulah berupa sirup. Selain lebih mudah menakarnya, cara menyimpannya juga tak sulit; biasanya tak perlu disimpan di lemari es, cukup dalam suhu kamar.

Bila kita ke dokter, mungkin masih ada beberapa dokter yang memberikan obat dalam bentuk puyer untuk bayi. Namun jenis obat bebas telan yang dapat diberikan pada bayi amat terbatas. Umumnya obat pereda panas, obat batuk dan pilek, serta larutan rehidrasi.

Penting diketahui, obat bebas ditandai lingkaran hijau pada kemasannya. Dalam banyak buku petunjuk penggunaan obat, jenis ini diklasifikasikan sebagai jenis B, hampir terdapat pada semua obat pereda panas. Ada pula beberapa obat yang ditandai lingkaran biru, artinya obat ini masih boleh diperoleh dengan bebas tapi dalam jumlah terbatas. Kebanyakan obat bebas untuk pereda batuk/pilek termasuk dalam golongan ini.

Yang bikin bingung, saat ini banyak obat bebas dengan berbagai merek ditawarkan. Nah, mana yang harus dipilih? Menurut Waldi, sesuaikan yang rasanya disukai si kecil. Jadi, kita bisa pilih merek apa saja asalkan sesuai selera si kecil; entah dengan rasa stroberi, jeruk, anggur, atau lainnya.

Yang penting diperhatikan obat itu memang boleh diberikan untuk usia bayi/anak. Jangan lupa, lihat tanggal kadaluarsanya. Setelah obat diperoleh, selalu baca lebih dulu catatan penjelasan yang terlampir dalam kemasan. Di situ tertera antara lain dosis dan jadwal pemberian serta efek sampingnya.

Bila si kecil tak jua sembuh setelah diberi obat, jangan langsung ganti obat karena tak ada obat bebas yang bisa menghilangkan penyakit dengan seketika. Bukankah semua obat butuh proses untuk menyembuhkan? Misal, si kecil panas. Sudah dua kali diberi obat A tapi belum juga turun, lalu diganti obat B ternyata langsung turun. Jangan buru-buru bilang obat B manjur sementara obat A tak manjur. Pasalnya, kebetulan panas si kecil memang sudah waktunya turun ketika diberikan obat B.

Lagi pula, bisa terjadi si kecil tak kunjung sembuh lantaran obatnya diberikan dengan dosis yang salah. Misal, si kecil yang baru berusia 5 bulan punya badan agak besar untuk anak seusianya. Berarti, dosis yang tertera di brosur dengan kalimat "untuk bayi di bawah 6 bulan" tentu enggak pas bila diberikan kepadanya. Nah, untuk tahu dosis yang tepat, si kecil mau tak mau perlu dibawa ke dokter.

Jadwal dan lama pemberian
Perhatikan pula jadwal pemberian obat; sesuaikan dengan yang tertera di brosur. Maksimal pemberian biasanya 4 kali sehari. Dengan demikian, jarak pemberiannya 6 jam. Jangan lupa, satu hari sama dengan 24 jam. "Namun sering orang tak menghitung seperti itu. Banyak yang menghitung satu hari hanya 12 jam hingga jadwal pemberian obat bila dibagi 4 hanya 3 jam sekali. Ini jelas salah," tutur Waldi. Apalagi bila obat hanya diberikan waktu siang, sedangkan malamnya tak diberi. Ini, kan, enggak efektif.

Lazimnya diperkenankan mencoba memberikan obat bebas selama 2-3 hari saja. Selebihnya, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan untuk memastikan apa penyakit dan pengobatannya. Tentu ada kasus yang tak perlu menunggu 2-3 hari dan dicoba-coba dengan obat, seperti bila si kecil muntah terus-menerus, kejang, atau tampak tak sadar.
Sumber : NAKITA
Baca Selengkapnya..!!
 

Copyright 2011 All Rights Reserved | HERBALISTORE Designed by OKEGAN | CSS done by herbalistore